Aku pikir janji itu ada.
Aku pikir ini malam kita.
Ilusi ini begitu nyata.
Hingga akhirnya banyak celaka yang tiba.

Melalui ruang tanpa batas. 
Jejak ragu mulai merambah. 
Lantas hati ini menjerit kau saat kau lindas. 
Tapi masih saja kududuk karena betah.

Lelah sudah berlakon drama. 
Yang akhirnya selalu sama. 
Alurnya bagai logaritma. 
Sulit diterka, menimbulkan enigma.

Duduk masalah kini tumpang-tindih. 
Fasih menipu perasaan sedih. 
Kau biarkan hati ini rondah-rindih. 
Sedang kau disana belajar menghapus pedih.

Kemudian lidah terasa kelu. 
Hening dan diam, diselimuti malu. 
Pikiran melayang dan jadi tulu. 
Hanya mimpi namun sungguh terlalu.

Ditulis :
Di Surabaya, 5 Juni 2014
Oleh Ghinadhia Putri Andiya

View text
  • #ghinadhia putri andiya #pulapuisi
  • 3 months ago
View photo
  • 4 months ago

Apa?

Bermula pada suatu pagi
Dimana gunung menjadi awalannya
Kemudian berjalan di bawah terik mentari
Dan pantai menjadi pemandangannya
Berakhir dalam naungan malam sunyi
Ketika bintang menjadi perhiasannya

Biarkan ku berlari
Mencari kepingan hati yang entah dimana
Lihat lah ku menari
Mendekap gelisah yang entah apa
Dengarkan ku bernyanyi
Mendendangkan rasa yang entah bagaimana

Sebenarnya, aku ingin berterimakasih. Pada setiap insan yang telah mewarnai hidupku. Putihnya kanvas kehidupan, kini ternodai. Entah dengan spidol berwarna, atau hanya dengan pensil kayu. Ikhlas mulai kugauli. Agar tau jelaganya berdusta. Ku larungkan sebuah sampan kecil. Berisi permintaan maaf dan tanya. Dan ternyata segera kudapatkan jawabannya. Sabar itu, bukan bilangan pasti.

Ingin segera kupecat dendam, dengan merekrut semua kebaikan. Tapi aku bisa apa? Hati ini masih diselimuti oleh luka. Perih ini memunculkan duka. Dimana bahagia menjadi taruhannya. Lalu aku harus bertindak apa?


Ditulis :
Di Surabaya, 23 Mei 2014
Oleh Ghinadhia Putri Andiya

View text
  • #ghinadhia putri andiya #pulapuisi
  • 4 months ago

Ada

Pergi ku berlari mengejar mentari
Sebentar saja, sudah putus asa
Cemas ku duduk bersebelahan dengan senja
Ternyata memang terlalu membosankan

Kunang-kunang menari di sekelilingku
Gelak  tawa, suka cita, kebahagiaan
Bukan, itu bukan perhiasanku

Gelap itu dengan dinginnya menyelimuti
Pekat, gundah, kepedihan
Sepatutnya aku bersyukur pada Yang Maha Kuasa

Disini terlalu sepi
Hati ini tidak pernah terjamah
Berulang kali diberi anti oksidan
Tetap saja, hina adanya


Ditulis :
Di Surabaya, 23 Mei 2014
Oleh Ghinadhia Putri Andiya

View text
  • #senja #mentari #ghinadhia putri andiya #pulapuisi
  • 4 months ago

Ceritera Bukan Apa Adanya, Tapi Ada Apanya (bagian 1)

Bercerita pada terik, bukanlah menumbuhkan bunga tidur di siang hari. Badai pun, enggan menoleh kala itu. Tetapi tetap saja angin masih berhembus.

Lama tidak menulis, jadi makin kacau hati dan lelah. Berkali-kali bercerita kesedihan, ketidak adilan, bahkan kebahagiaan semu yang sebernarnya hanya ilusi belaka. Lalu aku harus apa?

 

Bermula pada suatu pagi, suasana tidak begitu baik. Tak biasanya aku gelisah, begitu juga Mams dan Paps. Berulang kali mereka menanyakan hal yang paling menakutkan dalam hidupku, waktu itu.

“Sudah  kah? Masa sih belum ada? Emang jam berapa?”

 Ah, pengumuman penerimaan mahasiswa ITK (Institut Teknologi Kalimantan). Sedikit cerita, aku gagal lolos di seleksi SNMPTN Undangan dan SBMPTN. Rasanya begitu menyesakkan hati, kalau boleh jujur. Kata Mams, aku yang salah. Salah doa ke Allah. Emangnya Allah dengar doaku atau maksud aku berdoa sih? Kadang jadi kesal sendiri. Akhirnya, diputuskan sepihak oleh Paps. Kalau mau kuliah, ya ikut seleksi mahasiswa ITK aja. Soalnya di brosur tertera bahwa diberikan beasiswa penuh, bagi yang berdomisili di wilayah Kalimantan Timur. Begitu pun dengan jurusan yang dipilih, sepihak oleh Paps. Teknik Mesin dan Teknik Elektro. Kenapa aku tidak disuruh jadi pembuat bom aja sekalian ya? *sebenarnya tidak ada hubungannya

Dan akhirnya, aku menghabiskan waktuku hari itu dengan bermain bersama kucing peliharaan kesayanganku, Sakti. Lumayan lah, daripada shock ngelihat timeline teman-teman penuh suka cita dan haru bahagia. Kalau si Pacar (Rizkyanto Nugroho), sudah tenang-tenang aja. Kemarin sempat kaget waktu tau SNMPTN Undangannya tidak lolos, eh masih aja ada rezeki buat dia untuk masuk FTI ITB. Alhamdulillah. Saking bahagianya, dia sampai sempat telpon aku sebentar sih. Cuma untuk mengabari dan menenangkanku. Dan kemudian Ibuk terdengar agak kesal ke dia, soalnya emang sudah malam banget. Harusnya aku aja, Buk yang dimarahi. Sore harinya, aku cuma “ndlosoran” di kamar sambil menatap nanar kegendutan yang tertampang di kaca kamar. Menjelang maghrib, mood makin hancur. Sebenarnya ada hal lain yang bikin hari itu makin tidak karuan, PMS. Alasan klasik cewek deh, buat menyalahkan setiap insan manusia yang menuduhnya jahat, jutek dan segala tindak “ketidak cewek-an” bagi cowok/cewek di sekitarnya. Sepulang dari langgar, Paps menyuruhku membuka situsnya. Dan taraaaaaaaaa… Alhamdulillah. Diterima di Teknik Mesin. Subhanallah, seketika itu pula semua penghuni rumah (kecuali Sakti) pada sujud syukur. Mams langsung ngaji sampai Isya, dan aku cuma bisa nangis sambil memeluk Sakti hingga aku disadarkan bahwa ia mencakarku. Paps langsung telpon Om Bien, Tante Tien, Mbah Uti, dan beberapa kawan-kawan kantornya. Mams langsung mengirim SMS ke beberapa teman pengajiannya. Aku pun segera mengecek social media, twitter. Awalnya hanya berniat untuk mengecek, ada tidak ya yang lagi update. Dan ternyata banyak banget. Aku tidak langsung update sih, cuma si Ais dan Oky langsung Whatsapp dan kepoin aku. Icha dan Nita buru-buru aku telpon sambil nangis-nangis (padahal ngomongin gimana supaya bisa ngabur bareng). Beberapa ucapan terimakasih dan alhamdulillah aku sebar ke Ryan, Dikah, Gilang, Anin, Ayin, Gita, Madam, Reski, Neo, Mas Jo, Mas Brata, Alfian, beberapa guru dan pastinya si pacar, Rizkyanto. Tidak lama kemudian, Utee langsung telpon dan menanyakan aku diterima dimana. Dia bercerita kalau diterima di Teknik Elektro. Ternyata emang masih dikasih kesempatan buat sekampus bareng dia. Hari itu diakhiri dengan telponan hingga larut malam sama Utee, bercerita rencana-rencana bodoh dan tentu saja…bersyukur masih bisa dikasih kesempatan untuk menuntut ilmu lagi.

Menginjakkan kaki di Surabaya, langsung bernaung di Asrama Mahasiswa ITS. Ya, kami mahasiswa ITK dititipkan di ITS Surabaya. Bagiku, itu merupakan nikmat yang luar biasa. Dulu bermimpi untuk kuliah di Surabaya, pokoknya harus di Surabaya, bukan ingin di ITS, bahkan UNAIR. Walaupun, ujung-ujungnya yang kupilih dulu adalah Teknik Lingkungan dan Geomatika ITS. Tidak masalah bagiku, yang kudambakan adalah kota Surabayanya kok. Yang lebih penting, nantinya aku bisa bercerita bahwa aku pernah hidup mandiri. Jauh dari orang tua, walaupun anak cewek, anak pertama, tapi bisa bertahan. Selain menyambung tali silaturahim dengan keluarga yang berada di pulau Jawa, status LDR kini telah menjadi beda kota saja, tidak beda pulau. Beberapa hal bahagia yang kurasa.

Sebelum ini, banyak hal menarik yang bisa diceritakan. Jogging dengan Utee, jalan dengan Ais dan Oky, bermain sama beberapa “Besties”, serta jalan dengan Rizkyanto yang Paps pun juga ikut. Ada juga petualangan dengan Paps yang mengantar teman-teman ITK yang aku kenal di Balikpapan (kebanyakan dari SMANSA Balikpapan) ke Kantor Gubernur Kalimantan Timur serta penyerahan berkas beasiswa ke Kantor Dinas Pendidikan Kalimantan Timur. Semuanya di luar kota, Ibukota Provinsi Kaltim, Samarinda. Ya, aku yang berdomisili di Balikpapan harus menempuh perjalanan sekitar kurang lebih 2jam untuk menuju kota tersebut. Walaupun bandar udara internasionalnya berada di Balikpapan, ibukotanya ya tetap di Samarinda. Kenapa tidak dipindah saja ya? Ah, jangan deh. Nanti Balikpapan terlalu ramai.

Di ITS, terjadi beberapa hal yang kurang menyenangkan. Terutama dari Teknik Mesin ITS Surabaya. Perlu teman-teman tau, banyak kejahatan disini. Memang tidak ada buktinya, tapi pembunuhan karakter massal ada disini. Sistem pengkaderan yang ada di ITS, sebenarnya baik-baik saja dan cukup bermanfaat. Karena kami mahasiswa ITK, dan terkhusus jurusan Teknik Mesin, maka pengkaderan untuk kami dibedakan. Hal tersebut ada baik dan buruknya. Namun disinilah, Allah memberikan beberapa pencerahan untuk aku, hamba-Nya yang tersesat jauh dalam kegelapan. Di akhir tahun keduaku di Surabaya, aku bertemu dengan dua orang teman yang bukan mahasiswa ITK. Ya, mereka “aseli” mahasiswa ITS di jurusan Teknik Mesin ITS. Entah mengapa, aku merasa perlu menceritakannya lebih detail. Hanya berawal dari belajar bareng hingga ngobrol random. Oh iya, tempat nongkrong favorit kami di KFC Kertajaya, Surabaya. Biasanya kami begadang hingga pukul 4pagi.

Yang pertama bernama Haditya Zhulkarnain. Tidak perlu aku sebutkan latar belakangnya. Dia sungguh-sungguh nomaden. Kota kelahiran, rumahnya sekarang, sekolahnya, tidak ada yang pernah sama di satu kota. Langsung aja aku ceritakan si “Hadit” aka “Edan” versiku.

Hadit, kenal dia karena dulu pernah ada kejadian tidak disengaja yang memalukan dan menyedihkan(bisa dibaca dipostingan selanjutnya yang berjudul “Karena Tidak Bergelar, Aku Selalu Dipandang Hina dan Sebelah Mata”). Semenjak kenal dia, ada hal aneh yang dirasa. Bukan getaran asmara, tapi penasaran yang berlebihan. Terjebak di “friendzone” atau “gankzone”, sebenarnya aku tidak begitu paham. Menurutku, dari berjuta kali bercerita dengannya, dia adalah sosok seorang kawan yang sungguh bisa diandalkan. Sifat introvertnya membuatku ingin selalu berlindung padanya. Dia terlalu baik untuk seorang aku yang jahatnya keterlaluan. Kadang, kalau dia sudah gemas melihat kendablek-anku, dia akan langsung memukulku dengan kertas yang digulung, memakiku, mencubitku(kadang), dan kerap kali menasehatiku dengan begitu sabarnya. Entah apa yang membuatku ingin terus merangkulnya, menyandang ia dengan sebutan teman, ah mungkin lebih dari itu. Sahabat pun belum bisa mendefinisikannya. Kalian tidak boleh iri ataupun jealous loh. Si Hadit ini sudah memilih calon pendamping hidupnya. Doain aja supaya langgeng dan berjalan lancar. Perlu diketahui, Hadit ini paling tua di antara kami bertiga. Tentu saja dia paling dewasa. Dan paling sabar. Walaupun, ujung-ujungnya kalau aku berantem dengan makhluk satunya lagi, dia akan memihak si satunya. Karena, emang selalu aku yang paling bandel dan rewel.

Yang kedua bernama Mario Muhammad Hafidh. Akan terlalu panjang menceritakan tentang Mario. Dan kalau ia membaca ini, dia mungkin akan kegeeran dan jadi besar kepala. Orang Solo banget, dan paling benci dengan ketidak teraturan diriku. Ini si “Merr” aka “Gembel” versiku.

Mario, kenal dia karena dikenalin Hadit sih. Tidak mengerti kenapa musti semua karena Hadit. Tapi, semenjak kenal bocah satu ini, ada hal menyenangkan yang bisa membuatku merasa geli sendiri. Kayaknya kalau tidak berantem sama dia, ada yang kurang. Sebenarnya Merr baik, tapi kalau ke aku, jahatnya ampun-ampunan. Dia juga ganteng, lumayan sih. Paling jaga penampilan. Dia selalu bawa sisir kesayangannya. Dan aku selalu bisa nebak kapan dia mengeluarkannya dan membenarkan rambutnya yang sebenarnya pendek untuk ukuran cowok. Merr juga yang memberikan gelar abadi untukku, “Pesut”. Pernah aku nanya, kenapa dia julukin aku kayak gitu. Apa karena aku gendut. Katanya dia sih, bukan. Tapi kelakuanku yang tidak bisa diam, mirip banget sama mamalia air tawar tersebut. Kenapa tidak dipanggil lumba-lumba aja kan ya? Mirip kan? Dan lebih imut serta lucu. Kata dia, tidak pantas buat lumba-lumba disejajarin sama aku. Tuh dia jahat banget kan. Kadang jadi kesel juga. Dari kesimpulan pertengkaran aku dengan Merr, dia adalah sosok teman yang sangat peduli(kecuali ke aku sih, kata dia). Walau sesungguhnya, dia telah menyelamatkan hidupku sekali. Dan pertolongan dia, akan selalu aku ingat seumur hidupku. Kalau dia sudah capek melihat kegoblok-anku, dia akan langsung mencaciku, berdebat denganku, bahkan ia rela ngambek dan marah-marah ke aku supaya aku belajar dewasa. Badai apa yang bisa menerbangkan perasaan sayang ke teman, atau mungkin bisa dibilang sahabat ke seorang Merr. Kegantengan dan jiwa sosial Merr ini cukup menggiurkan. Tapi, Merr sedang berusaha berkomitmen dengan pacarnya saat ini. Doain aja supaya langgeng dan dia tidak belok-belok.

 

“Ternyata sebuah musibah bisa mendatangkan nikmat yang luar biasa. Definisikan sudut pandangmu berdasarkan apa yang ingin kamu dapatkan.” -Ghee

#Salam

Ditulis :
Di Surabaya, 29 April 2014
Oleh Ghinadhia Putri Andiya

View text
  • #ghinadhia putri andiya #sesi curhat
  • 5 months ago

Jika Allah sanggup mengatur matahari tetap pada tempatnya, juga planet-planet pada lintasannya, mengatur jarak langit dan bumi, mengatur jarak antar gemintang sekian kilometer jauhnya. Maka mudah bagi Allah mengatur jodoh yang bisa jadi hanya berjarak ratusan meter dari kita.

Fanspage OSD (via laninalathifa)
View quote
  • 5 months ago
  • 164
View photo
  • #YNWA #OnlyGodCanStopThem #Liverpool #LFC
  • 5 months ago
  • 1
View photo
  • #instagheers
  • 5 months ago
View photo
  • #instagheers
  • 5 months ago
View photo
  • #instagheers
  • 5 months ago
View photo
  • #instagheers
  • 6 months ago
View photo
  • 6 months ago
  • 2
View photo
  • #senja #purnama #hati #gelisah #ragu #haikuGhina #pulapuisi #ghinadhia putri andiya
  • 6 months ago
View photo
  • #SCTV #Slank #Bu Risma #Surabaya #Grha ITS Surabaya #ITS Surabaya
  • 6 months ago
  • 1
View photo
  • #SCTV #Slank #Bu Risma #Surabaya #Grha ITS Surabaya #ITS Surabaya
  • 6 months ago
x